Cestoda

C E S T O D A

Cestoda ini terbagi ke dalam 2ordo:

1. Ordo Pseudophyllidea

2. Ordo Cylophylidea

HABITAT

Pada umumnya cestoda habitatnya pada saluran pencernaan makanan pada manusia atau binatang sehingga cacing pita dewasa menimbulkan kelainan intestinal, sedangkan cestoda stadium larva dapat menyebabkan gejala ekstraintestinal.

Manusia merupakan hospes dari cestoda dalam bentuk:

Dewasa:

– Taenia soleum

– Hymenolepis nana

– Hymenolepis diminuta

– Diphyllidium caninum

– Diphyllobothrium latum

Larva:

– Diphyllobothrium spp.

– Taena soleum

– Echinococcus granulosus

– Echinococcus multilocularis

– Multiceps spp.

DISTRIBUSI GEOGRAFIK

Parasit ini ditemukan di Amerika, Kanada, Eropa, dan di daerah danau Swis, Rumania, Turkestan, Israel, Mancuria, Jepan, Afrika, Malagasi dan Siberia.

PATOLOGI dan GEJALA KLINIS

Penyakit ini biasanya tidak menimbulkan gejala berat, mungkin hanya gejala saluran cerna seperti diare, tidak nafsu makan, dan tidak enak perut.

Bila cacing hidup dipermukaan usus halus, dapat timbul anemia hiperkrom makrositer. Bila jumlah cacing banyak, mungkin terjadi sumbatan usus secar mekanik atau terjadi obstruksi usus, karena cacing-cacing itu menjadi sperti benang kusut.

MORFOLOGI

Bentuk badan seperti pita dan terdiri dari:

a. Skolek, yaitu kepala yang merupakan alat untuk melekat. Pada Cyclophillidea skolek dilengkapi dengan batil isap dan kepala yang bulat, sedang pada Pseudophyllidea skolek mempunyai lekuk isap dan kepala berbentuk sendok.

b. Leher antara skolek dan badan, bagian ini lebih kecil dan merupakan tempat pertumbuhan bagian badan.

c. Strobila yaitu bagian badan yang terdiri dari segmen-segmen yang disebut proglotid. Tiap proglotid mempunyai susunan alat kelamin jantan dan betina lengkap, keadaan ini disebut Hermafrodit.

Cacing ini tidak mempunyai rongga badan dan alat cerna. Telur dilepaskan bersama dengan proglotid atau tersendiri melalui lubang uterus. Embrio yang terdapat didalam telur disebut onkosfer berupa embrio heksakan yang tumbuh menjadi efektif di dalam hospes perantara. Chylophyllidea umumnya mempunyai satu hospes perantara, sedang Pseudophyllidea, mempunyai dua hospes perantara.

SIKLUS HIDUP

Telur yang sudah matang diletakan dalam kapiler darah dan vena kecil dekat permukaan mukosa usus atau kandung kencing. Telur dapat menembus keluar dari pembuluh darah, bermigrasi ke dalam jaringan untuk kemudian sampai pada lumen usus atau kandung kencing, akhirnya telur ditemukan di dalam tinja atau urine. Telur segera menetas dalam air dan keluar miracidium, didalam tubuh keong, miracidium berkembang menjadi sporokista I, sporokista II akhirnya menjadi cerceria. Cerceria mempunyai kemampuan menembus kulit, masuk kedalam kapiler darah, akhirnya sampai kedalam vena kecil usus atau kandung kencing.

DIAGNOSIS

Cara menegakkan diagnosis penyakit ini adalah dengan menemukan telur atau proglotid yang dikeluarkan dalam tinja.

PENGOBATAN

Penderita diberikan obat atabrin dalam keadaan perut kosong, disrtai pemberian Na-bikarbonas, dosis 0.5 g dua jam setelah makan obat diberikan sebagai pencahar magnesium sulfat 15 g.

Obat pilihan adalah niclosamid, diberikan 4 tablet (2 gram) dikunyah sekaligus setelah makan hidangan ringan. Obat lain yang juga efektif adalah promomisin, yang diberikan dengan dosis 1 g setiap 4 jam sebganyak 4 dosis. Selain itu dapat dipakai prazikuantel dosis tunggal 10 mg/kg berat badan.

EPIDEMIOLOGI

Penyakit ini tidak ditemukan di Indonesia tetapi banyak dijumpai di Negara yang banyak makan ikan salem mentah atau kurang mateng.

Untuk mencegah terjadinya infeksi, ikan air tawar yang tersangka mengandung bibit penyakit harus terlebih dahulu dimasak dengan sempurna dihidangkan.

Daftar Pustaka: Natadisastra, Djaenudin, dkk. 2009. Parasitologi Kedokteran Ditinjau dari Organ Tubuh yang Diserang. Jakarta: EGC.

Sutanto, Inge. 2008. Parasitologi Kedokteran. Jakarta: FKUI

Safar, Rosdiana. 2010. Parasitologi Kedokteran. Bandung: Yrama Widya.

About Gusti Pandi Liputo

Masih dalam tahap belajar untuk menjadi pemuda yang berpikir kreatif dalam menyelesaikan setiap problematika

Posted on Januari 23, 2011, in Kesehatan, Pengetahuan and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: