Analisa Mikroba

PRAKTIKUM I “sterilisasi berbagai alat dengan pembakaran”
KELOMPOK II

Tujuan Praktikum
Adapun tujuan praktikum I ini adalah mengetahui cara sterilisasi berbagai alat dengan pembakaran.
Dasar Teori
Sterilisasi merupakan proses atau kegiatan membebaskan suatu bahan atau benda dari semua bentuk kehidupan seperti, kuman, debu, virus, jamur, bakteri dan radikal bebas lainya.
Sterilisasi pembakaran adalah kegiatan membebaskan suatu bahan atau benda dengan menggunakan panas api. Dengan menggunkan suhu panas api maka kita dapat mensterilisasikan atau membebaskan suatu benda dari radikal bebas.
Alat dan Bahan
Alat: Jarum ose, tabung reaksi, lampu Bunsen, korek api, dan cawan petri.
Prosedur Kerja
Untuk sterilisasi pembakaran ada tahapannya yaitu;
Nyalakan lampu Bunsen dan atur nyala apinya secara optimal.
Untuk sterilisasi jarum ose. Ambil jarum ose kemudian lakukan pembakaran dengan api Bunsen mulai dari bagian pangkal kawat jarum ose secarah perlahan menuju ke ujung kawat jarum ose. Pembakaran jarum ose harus dilakukan sampai jarum ose merah membara. Jarum ose yang sudah dibakar lalu didinginkan, selanjutnya siap digunakan untuk mengambil atau menginokulasi mikroorganisme.
Untuk sterilisasi mulut tabung reaksi. Bukalah sumbat kapas kemudian lewatkan mulut tabung pada api. Hal ini dilakukan sebelum dan setelah mengambil/menginokulasi biakan. Tutup kembali mulut tabung dengan kapas.

Untuk sterilisasi cawan petri. Sebelum cawan petri dibuka untuk diinokulasi maupun cawan petri ditutup setelah inokulasi, tepi cawan dilewatkan di api Bunsen.

Hasil Pengamatan
Dari hasil pengamatan dengan menggunakan mikroskop terbukti mikroba dimusnahkan oleh suhu panas api.
Kesimpulan
Sterilisasi dengan pembakaran ini bisa dibilang sterilisasi yang manual, akan tetapi sterilisasi ini cukup memuaskan dalam pembebasan mikroba-mikroba yang melekat pada benda atau bahan yang akan digunakan dalam penelitian.

Pertanyaan : Mengapa semua alat di atas harus dilewatkan pada api Bunsen?
Jawaban : karena, untuk membebaskan mikroorganisme yang menempel pada alat tersebut, dengan memanfaatkan suhu panas api. Seperti kita ketahui bahwa, sebagian besar mikrooraganisme tidak dapat mempertahankan hidup pada suhu yang panas.
Referensi
Tiner, John Hudson. Exploring The History of Medicine, Arkansas. Mater Books Inc.
Tim Penyusun “Penuntun Praktikum Mikrobiologi dan Parasitologi” 2010


PRAKTIKUM II “sterilisasi berbagai alat dengan panas kering”
KELOMPOK II

Tujuan Praktikum
Tujuan praktikum II adalah mengetahui berbagai cara sterilisasi berbagai alat dengan panas kering.
Dasar Teori
Berbeda dengan sterilisasi pembakaran, sterilisasi ini menggunakan oven akan tetapi tujuanya sama yaitu membebaskan benda atau bahan dari mikroba yang ada di sekelilingnya.
Oven merupakan alat sterilisasi dengan udara panas kering, biasanya alat-alat yang disterilkan dalam oven biasanya yang terbuat dari kaca. Suhu yang biasa digunakan dalam mensterilkan alat kira-kira 60-180 derjat C.
Alat dan Bahan
Alat: cawan petri, tabung reaksi, pipet ukur, dan oven
Bahan: kapas, kertas bungkus/HVS, dan benang
Prosedur Kerja
Tankupkan cawan petri bagian bawah dan tutupnya, kemudian bungkus dengan kerjas dan susun cawan petri (5-10) buah dan diikat dengan benang.
Ambil tabung reaksi yang masing-masing ditutup dengan kapas, beberapa tabung (5-10) diikat dengan jadi satu dan dibungkus dengan kertas kemudian diikat kembali.


Pipet ukur ujung akar diberi sedikit sumbat kapas (agak longgar) kemudian dibungkus dengan kertas dan diikat

Semua alat yang sudah dibungkus dimasukan kedalam oven
Oven dinyalakan pada suhu 175 derajat C. lakukan selama 2 jam
Setelah pemanasan, semua peralatan didinginkan dan pada hari berikutnya siap dipakai untuk penelitian.
Hasil Pengamatan
Seperti pada sterilisasi pada pembakaran, sterilisasi panas kering (oven) hasinya sama dengan pada sterilisasi pada pembakaran yaitu semua mikroba dimusnahkan oleh panas oven.
Kesimpulan
Sterilisasi dengan alat oven memang terhitung canggih sudah menggunakan kecanggihan dari alat (oven). Dari hasil pengamatan terbukti dengan panas oven kita dapat membebaskan suatu benda yang positif ada mikroorganisme.
Jawaban Pertanyaan
Pertanyaan:
sebutkan alat-alat yang bisa disterilisasi dengan panas kering?
Apakah media agar bisa disterilisasi dengan panas kering?
Jawaban:
Seperti kita ketahui alat-alat yang terbuat dari kaca yang bisa disterilisasi dalam oven. Selain alat di atas ada juga contoh alat lain seperti; Erlenmeyer
Media agar tidak bisa di sterilisasi dalam panas kering (oven), tetapi untuk mensterilkan media kita dapat menggunakan sterilisasi dengan panas basah bertekanan tinggi (autoklaf)
Referensi
Tim Penyusun “Penuntun Praktikum Mikrobiologi dan Parasitologi” 2010

PRAKTIKUM III “sterilisasi bahan/media pertumbuhan mikroorganisme”
KELOMPOK II

Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum III adalah mengetahui berbagai cara sterilisasi bahan/media pertumbuhan mikroorganisme.
Dasar Teori
Sterilisasi ini biasanya dipergunakan untuk mensterilkan bahan media pertumbuhan mikroorganisme, dengan menggunakan alat autoklaf. Dengan tekanan bertekanan tinggi maka suhu yang biasa digunakan kira-kira 120 derjat C.
Media yang sering digunakan dalam pertumbuhan mikroorganisme antara lainya adalah Nutrient Agar (NA), EMBA, Laktosa Broth, dan Potato Dextose Agar (PDA0
Alat dan Bahan
Alat: autoklaf, Erlenmeyer, cawan petri steril dan incubator
Bahan: PDA atau NA dan aquades
Prosedur Kerja
Tutup Erlenmeyer yang berisi media (PDA/NA) dengan kapas
Isi autoklaf dengan aquades sampai permukaan air dibawah asang/keranjang autoklaf
Sambungkan autoklaf dengan sumber listrik dan nyalakan autoklaf
Masukan Erlenmeyer yang telah berisi media (PDA/NA) ke dalam asang/keranjang autoklaf
Tutup autoklaf dan kencangkan penutupnya dengan kuat
Atur suhu, waktu dan tekanan yang diperlukan untuk sterilisasi. Sterilisasi umumnya dilakukan pada 120 derajat C dan tekanan 15 pounds selama 15 menit
Setelah sterilisasi berakhir, buka tutup autoklaf dan ambil media yang telah disterilkan dan dituang pada cawan petri steril, selanjunya diinkubasi pada incubator.
Hasil Pengamatan
Setelah kita sterilkan pada autoclave kita dapat memakai media tersebut yang sudah steril artinya bebas dari dilihat dari mikroskop.

Kesimpulan
Pada dasarnya sterilisasi dengan panas basah bertekanan tinggi (autoklaf) sering digunakan dalam sterilisasi atau penyediaan bahan atau media tumbuh dari mikroorganisme yang akan diteliti atau diuji dalam laboratorium.
Jawaban Pertanyaan
Pertanyaan: mengapa sterilisasi bahan atau media tumbuh mikroba harus menggunakan panas basah bertekanan tinggi?
Jawaban: media agar memang harus menggunakan autoklaf dalam mensterilisinya karena media agar kenyal yaitu NA/PDA media tumbuh dari bakteri. Oleh sebab itu jika kita sterilisasi media agar harus pada basah yang bertekanan tinggi agar dia akan menjadi kenyal seperti yang diinginkan untuk media tumbuh mikroorganisme.
Referensi
Tim Penyusun “Penuntun Praktikum Mikrobiologi dan Parasitologi” 2010

PRAKTIKUM IV “membuat media”
KELOMPOK II

Tujuan Praktikum
Ada dua tujuan dari praktikum yang ke 4 ini yaitu;
Mengetahui cara-cara membuat media
Mengetahui macam dan kegunaan media
Dasar Teori
Media meruapakan tempat untuk tumbuhnya atau pembiakan miikroorganisme baik bakteri atau jamur. Media secara umum terbagi menjadi 4 yaitu
Media Nutrient Agar (NA) untuk pembiakan bakteri
Media Potato Dextose Agar (PDA) untuk pembiakan jamur
Media Laktose Brouth (LB) untuk pembiakan bakteri
Media EMBA untuk pembiakan bakteri
Keempat media pembiakan atau tumbuh dari miikroorganisme diatas yang sering digunakan dalam pembiakan bakteri yang akan di uji atau diteliti dalam laboratorium.
Untuk pembiakan jamur media PDA ini di tempakan pada cawan petri agar mudah menghitung jumlah koloni yang didapat dari pengujian, sedangkan untuk media LB karena bentuknya cair maka sering di tempatkan pada tabung reaksi, pada hasil pengujian ini kita hanya bisa melihat apakah ada perubahan warna pada tabung reaksi tersebut.
Alat dan Bahan
Alat: beaker glass, gelas ukur, batang pengaduk, kapas, pembakar, autoclave, cawan petri, incubator, dan Erlenmeyer.
Bahan: NA (Nutrien Agar) dan Aquades
Prosedur Kerja
Ambil media NA secara aseptis ditimbang sebanyak 0,42 gr lalu dilarutkan dalam 15 ml aquades.
Panaskan pada kompor listrik dan diaduk secara perlahan-lahan
Setelah larut sempurna kemudian diankat dan dituangkan pada Erlenmeyer dan ditutup dengan aluminium foil
Sterilkan dalam autolav dengan suhu 120 derajat celcius dengan tekanan 15 pounds selama 15 menit
Tuangkan 15 ml medium kedalam cawan petri. Dan pengisian dilakukan sebelum medium didinginkan dan mengental
Lakukan inkubasi selama 1 x 24 jam.
Media dapat disimpan dalam lemari es dibungkus dengan aluminium foil sampai diperlukan.
Hasil Pengamatan
Media yang tadinya berbentu padat menjadi cair dan jika didinginkan akan menjadi kenyal seperti agar, media tersebut bebas dari mikroorganisme/sudah disterilkan dan siap dipakai untuk pembiakan bakteri atau disimpan terlebih dahulu sampai diperlukan.
Kesimpulan
Media merupakan tempat pembiakan jamur ataupun bakteri. Pembuatan media harus sesuai prosedur yang telah dijelaskan diatas agar mendapat media yang sesuai keinginan dalam penelitian. Sebelum digunakan untuk pembiakan mikroba media terlebih dahulu disterilakan pada autoclave.
Jawaban Pertanyaan
Pertanyaan:
Buatkan diagram penggolongan medium biakan mikroba
Buatlah beberapa contoh susunan media yang anda ketahui
Jika dalam botol NA tertulis 20 gram/1000 ml, berapa gram yang diperlukan jika kita memerlukan media NA sebanyak 10 cawan petri.
Jawaban
1:
No Jenis Media Macam media
1 Berdasarkan susunan kimia media anorganik, media organik, media sintetik, media non sintetik (Alami)
2 Berdasarkan konsistensinya media cair, media padat, media semi padat.
3 Berdasarkan fungsinya media diperkaya, media selektif, media diferensial, media penguji, media untuk perhitungan jumlah mikroba.
4 Media umum NA, PDA
5 Media pengaya Mempercpt pertumb yg lain
6 Media selektif SSA, EMBA
7 Media deferensial Agar darah
8 Media penguji menguji antibiotika
9 Media perhitungan umum/selektif
2: Contoh susunan media
NA, PDA, SSA, MBA, Agar Darah.
3: NA gram = 10 x 15 x 20
1000
= 3 gram

NA ml = 10 x 15 = 150 m.
Referensi
Dwidjoseputro, D. 1993. Dasar-Dasar Mikrobiologi, Penerbit Djambatan, Jakarta
Fardiaz, S., 1992. Mikrobiologi Dasar 1, PT Gramedia, Jakarta
Schlegel,H.G. dan Schmidt, K.1994. Mikrobiologi Umum. Gadjah Mada University Press : Yogyakarta
Tim Penyusun “Penuntun Praktikum Mikrobiologi dan Parasitologi” 2010

PRAKTIKUM V “pour plate”
KELOMPOK II

Tujuan Praktikum
Untuk mengetahui jumlah bakteri pada bahan makanan dengan metode pour plate
Dasar Teori
Bakteri merupakan organism prokariota uniseluler yang hanya dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop. Cabang ilmu yang mempelajari bakteri adalah bakteriologi.
Ciri-ciri bakteri sb;
Dinding sel tersusun atas mukopolisakarida dan peptidoglikan
Tidak mempunyai membrane inti karena termasuk dalam prokariota
Bakteri ada bergerak dengan flagella namun ada juga yang tidak.
Dalam kondisi yang tidak menguntungkan bakteri mampu membuat endospora untuk bertahan hidup.
Bentuk bakteri secara umum ada 3 yaitu
Bentuk batang/basil

Bentuk bulat/kokus

Bentuk spiral/spirilium

Berdasarkan karakteristik dinding sel melalu system pewarnaan gram bakteri dibedakan menjadi 2
Gram negative: bakteri ungu, bersifat fotoautotrof dan tidak menghasilkan oksigen
Gram Positif: bakteri asam laktat, mampu memfermentasi gula dan menghasilkan asam laktat sebagai hasil akhirnya.
Metode Pour Plate atau biasa disebut metode tuang yaitu cara menghitung bakteri dalam media NA berdasarkan jumlah koloni yang didapat.
Metode Pour Plate/tuang artinya suspense yang terlebih dahulu dimasukan ke wadah dalam hal ini cawan petri, setelah suspense dimasukan maka tuanglah media NA ke cawan petri yang sudah berisi suspense.
Alat dan Bahan
Alat: Vortex, Petridis, Erlenmeyer, dispo/injeksi, incubator, autoclave, mortar, coloni counter, Bunsen, neraca ohause, dan tabung reaksi
Bahan: NaCl fisiologi, aquades steril, NA, alcohol 70% dan bahan makanan dalam hal ini menggunakan ikan sagela.
Prosedur Kerja
Adapun prosedur kerja yang dilalui dalampraktikum ini adalah;
Haluskan bahan makanan/ikan sagela yang akan diuji, kemudian ambil sebanyak 1 gram kemudian masukan kedalam larutan NaCl fisiologis steril sebanyak 10 ml, suspense yang diperoleh dipindahkan ke dalam tabung reaksi steril dan divortex samapai homogen.

Dari suspense yang tersedia diambil sebanyak 1 ml dengan menggunakan dispo dan diencerkan menjadi 1:10 dengan menambahkan NaCl fisiologis 9 ml. selanjutnya dibuat pengenceran 1:10, yaitu mengambil 1 ml dari hasil pengenceran sebelumnya (1:10) dan ditambah NaCl fisiologis sebanyak 9 ml. demikian seterusnya dibuat sampai pada penegnceran ke 3(untuk penelitian ini)
Setelah itu dari masing-masing pengenceran diambil suspense sebanyak 0.5 ml dan dipindahkan ke dalam cawan petri kemudian masukan media NA yang bersuhu kira-kira 45 derajat C kemudian digerakan perlahan-lahan agar suspense tersebut tercampur merata ke dalam media NA
Selanjutnya diinkubasi kedalam incubator dengan suhu 37 derajat C selama 1×24 jam dengan posisi cawan petri dalam keadaan terbalik, mengapa diletakan terbalik karena label berada dibawah cawan petri bukan pada penutupnya, supaya kita bisa menhindari penguapan dari media aar agar kita dapat melihat dengan jelas koloni yang akan dihitung
Hitung jumlah koloni yang terdapat di cawan petri dengan menggunakan coloni counter kemudian hitung jumlah sel bakteri pada bahan makanan dengan menggunakan rumus sb;

Koloni pr ml / per gr = jumlah koloni per cawan x 1
Factor pengenceran

Hasil Pengamatan
Hasil penelitian yang telah kelompok II lakukan sb;
Bakteri yang kita dapat yaitu bakteri Gram Negatif
Dapat dilihat pada gambar dibawah ini

Jumlah koloni yang didapat dari ke 3 cawan petri yang berisi media NA yang sudah di tumbuhi bakteri yaitu
〖10〗^(-1)= 464 Koloni | 〖10〗^(-2)= 386 koloni | 〖10〗^(-3)= 308
Untuk menghitung jumlah bakteri maka harus menggunakan rumus perhitungan bakteri diatas
Karena jumlah koloni lebih dari 300 maka kita mengambil pengenceran tertinggi yaitu 10-3. Hasilnya adalah
308 x 1 = 308000 = 3,1 x 〖10〗^4 CFU
〖10〗^(-3)
Maka jumlah bakteri yang kita dapat adalah 3,1 x 〖10〗^4 CFU
Kesimpulan
Uji kuantitatif bakteri pada Ikan sagela dengan menggunakan metode ‘pour plate’ sudah kita lakukan, metode tuang seperti yang telah diuraikan diatas telah menujukan bahawa perhitungan bakteri dapat dilakukan walau hanya menghitung jumlah koloni yang didapat. Dari hasil pengamatan di atas jumlah bakteri yang kita dapat dari pengenceran tertinggi yaitu 3,1 x 〖10〗^4 CFU
Jawaban Pertanyaan
Pertanyaan:
apa kelebihan dan kekurangan dari metode yang anda gunakan dalam praktikum ini dibanding dengan metode yang lain.
Sebutkan aturan-aturan dalam standar Plate Count (SPC)
Jawaban:
1:
Kelebihan Kelemahan
Hanya sel yang masih hidup yang dihitung
Beberapa jenis mikroba dapat dihitung sekaligus
Dapat digunakan untuk isolasi dan identifikasi mikroba Hasil perhitungan tidak menunjukkan jumlah sel sebenarnya, karena beberapa sel yang berdekatan mungkin akan membentuk satu koloni
Medium dan kondisi inkubasi yang berbeda mungkin menghasilkan nilai yang berbeda
Mikroba yang ditumbuhkan harus dapat tumbuh pada medium padat dan membentuk koloni yang jelas
Memerlukan persiapan dan waktu inkubasi relative lama sehingga pertumbuhan koloni dapat dihitung
2: Aturan-aturan dalam standar plate count (SPC)
Jumlah Koloni 30—300 koloni
Beberapa jumlah koloni yang bergabung dihitung satu koloni
Gabungan satu garis tebal dihitung satu koloni
Jika lebih kecil dari 30 koloni, pengenceran terendah yg dihitung
Jika lebih besar dari 300 koloni, pengenceran tertinggi yg dihitung
Jika antara 30-300 dari dua tingkat pengenceran dan perbandingan antara hasil tertinggi dan terendah dari pengenceran tsb lebih kecil atau = 2, dilaporkan rata-ratanya.
Jika lebih besar dari 2 maka yang dilaporkan adalah hasil yang terkecil.

PRAKTIKUM VI “mpn”
KELOMPOK II

Tujuan Praktikum
Untuk mengetahui jumlah bakteri coliform pada air dengan menggunakan uji penduga metode most probable number (MPN)
Dasar Teori
Pendekatan lain untuk perhitungan bakteri hidup adalah dengan metode MPN. MPN didasarkan pada metode statistik (teori kemungkinan). Metode MPN ini umumnya digunakan untuk menghitung jumlah bakteri pada air khususnya untuk mendeteksi adanya bakteri koliform yang merupakan kontaminan utama sumber air minum.
Alat dan Bahan
Alat: Tabung reaksi, tabung durham, pipet volume, cawan petri,
Bahan: aquades, kaldu nutrisi agar, kapas, sample air, dan lactose broth
Prosedur Kerja
Tahapan kerjanya adalah sb;
Buatlah sample pengenceran dari sample yang akan diperiksa dalam hal ini adalah ikan sagela. Mulai dari 〖10〗^(-1) , 〖10〗^(-2),〖10〗^(-3)
Sediakan 12 tabung reaksi, 3 tabung berisi 9 ml aquades
Steril, 9 tabung berisi 9 ml LB.

Masukan 1 ml sampel kedalam tabung (isi dengan aquades; akan tetapi percobaan kali ini menggunakan larutan NaCl), vortex samapai homogeny, hingga konsentrasi larutan dalam tabung pertama menjadi 〖10〗^(-1).

Ambil 1 ml dari tabung pertama masukan kedalam tabung ke 2. Kocok sampai homogeny, hingga konsentrasi larutan dalam tabung kedua menjadi 〖10〗^(-2) dan buat pengenceran 〖10〗^(-3)
Ambil larutan dari tabung 〖10〗^(-1), sebanyak masing-masing 1 ml untuk 3 tabung (isi LB 9 ml) 〖10〗^(-1), kemudian ambil tabung dari larutan 〖10〗^(-2) sebanyak masing-masing 1 ml untuk 3 tabung 〖10〗^(-2) juga untuk pengenceran 〖10〗^(-3).

Inkubasi dengan suhu 22-37 derajat C selama 2×24 jam
Hitung jumlah tabung reaksi yang positif kemudian hitung nilai MPN dengan menggunakan rumus sb;

MPN sampel = Nilai MPN table x 1
Factor pengenceran ditengah
Hasil Pengamatan
Dari percobaan yang telah dilakukan pada hari pertama, ternyata keesokan harinya tabung reaksi yang berisi suspense dan media LB telah berubah warna menjadi kuning dan mempunyai gelombang yang berarti bahwa tabung tersebut positif ada bakteri.
Pengenceran Hasil pengenceran 10 -1 Hasil pengenceran 10 -2 Hasil pengenceran 10 -3
10 -1 + + +
10 -2 + + +
10 -3 + + +

Kesimpulan
Dari hasil pengamatan yang telah kita lakukan kita dapat menyimpulkan bahwa sampel yaitu ikan sagela ternya positif ada bakterinya, karena terjadi perubahan warna yang signifikan pada tabung reaksi.
Jawaban Pertanyaan
Pertanyaan:
Sebutkan keuntungan dan kelebihan dari metode MPN dibandingkan dengan metode dalam penentuan jumlah bakteri.
Buatlah bagan langkah-langkah pengujian sampel dengan menggunakan metode MPN
Jawaban
1:
Kelebihan Kekurangan
Cukup mudah untuk dilakukan
Dapat menentukan jumlah spesifik mikrobia tertentu dengan menggunakan media yang sesuai
Metode ini dipilih untuk menetukan densitas bakteri coliform fekal Membutuhkan alat gelas dalam jumlah yang banyak
Tidak dapat digunakan dalam pengamatan morfologi dari suatu mikroorganisme
2:
3 Tahapan uji MPN

1. Uji Penduga
10 -1 10-2 10-3

10-1 10-2 10-3

2. uji penguat
3. Uji Biokimia
Uji gula-gula (glukosa, fruktosa, laktosa, maltosa)
Uji IMViC (indol,methyl-red,voges-proskauer dan citrat) untuk:
Membedakan kel bakteri Enterobakteriaceae (Klebsiela, Enterobacter, Salmonella, E. Coli, Proteus, dll)
Contoh: E. Coli IMViC + + – -
Referensi
Keperawatan B angkatan 2009 “Mikrobiologi”
Tim Penyusun “Penuntun Praktiku, Mikrobiologi dan Parasitologi” 2010 
PRAKTIKUM VII “uji penguat”
KELOMPOK II

Tujuan Praktikum
Untuk mengetahui bakteri E.coli pada sampel air dengan menggunakan uji penguat metode MPN
Dasar Teori
Uji ini melanjutkan tahap 1 yaitu dengan membuat piaraan agar tulang dari piaraan laktosa cair pada media agar selektif dan diferensial yaitu Eosin Methylene Blue Agar (EMBA).
Alat dan Bahan
Cawan petri
Jarum ose
EMBA
Prosedur Kerja
Jarum ose disterilkan terlebih dahulu

Ambil sampel pada uji penduga yang positif

Gosreskan pada media EMBA dengan goresan sinambung
Inkubasi selama 24 jam pada suhu 37 derajat C
Apabila koloni bakteri berwarna hijau metalik dinyatakan positif E.coli
Hasil Pengamatan
Dari hasil pengamatan terbukti bahwa media EMBA tampak berwarna hijau metalik lihat gambar dibawah ini

Kesimpulan
Dari hasil pengamatan kita, diketahui bahwa media EMBA terbukti ada goresan yang tampak berwarna hijau metalik, maka bisa dipastikan bahwa terdapat bakteri E.coli
Jawaban Pertanyaan
1. Sensivitas bakteri adalah kepekaan kuman terhadap antibiotika dari bahan klinik.

Beberapa ketentuan/aturan dalam pengujian sensivitas bakteri menurut Norrel.
Adapun uji difusi cakram menurut Norell (1996) adalah sebagai berikut:
1. Dipergunakan 5 lembar kertas saring yang dicelupkan pada suspensi lalu diletakkan pada lempengan agar yang mengandung biakan bakteri.
2. Setelah itu dilakukan inkubasi selama 16-18 jam pada suhu 37ºC, maka akan terlihat zona hambatan (zones of inhibition) di sekeliling cakram dimana cakram ini adalah kertas saring yang telah dicelupkan pada suspensi
3. Uji daya hambat biasanya dilakukan dengan petri berukuran 100 mm dan tidak lebih dari 5-6 disk anti bakteri pada setiap cawan Petri. Memberi jarak yang benar pada disk adalah sangat penting untuk mencegah zona hambat yang tumpang tindih.
4. Hambatan akan terlihat sebagai daerah yang tidak memperlihatkan adanya pertumbuhan bakteri di sekitar cakram. Apabila jarak antara cakram dengan bakteri 14 mm atau lebih, maka dapat dinyatakan bahwa bakteri peka terhadap suspensi sehingga bisa dikatakan bahwa suspensi dapat menghambat pertumbuhan bakteri, tetapi apabila jarak antara cakram dengan koloni bakteri bakteri 11 mm atau kurang maka dapat dikatakan bahwa bakteri resisten terhadap suspensi atau dengan kata lain suspensi tidak dapat menghambat pertumbuhan bakteri.

Referensi: Alaerts, G. dan Santika, S.S., 1987. Metode Penelitian Air, Penerbit Usaha Nasional, Surabaya
Tim Penyusun “Penuntun Praktiku, Mikrobiologi dan Parasitologi” 2010

PRAKTIKUM “sensivitas bakteri”
KELOMPOK II

Tujuan Praktikum
Untuk menentukan sensivitas tidaknya suatu bakteri terhadap berbagai macam zat antimikroba
Dasar Teori
Telah diketahui bahwa ekstrak daun Psidium guajava L. mempunyai daya antidiare. Karena infeksi Salmonella typhimurium merupakan salah satu penyebab diare, maka perlu diuji kepekaan kuman ini terhadap ekstrak daun Psidium guajava L.
Penyakit infeksi merupakan penyakit yang banyak diderita masyarakat Indonesia sejak dulu, diantaranya adalah infeksi usus (diare). Diare adalah suatu gejala klinis dari gangguan pencernaan (usus) yang ditandai dengan bertambahnya frekuensi defekasi lebih dari biasanya dan berulang-ulang yang. disertai adanya perubahan bentuk dan konsistensi feses menjadi lembek atau cair.
Alat dan Bahan
Alat: cawan petri, pembakar bunsen, beaker gelas, gelas ukur, gelas pengaduk, pinset dan penggaris
Bahan: kertas cakram, inkubator, NA, aquades dan bahan uji (Ektra Jahe)
Prosedur Kerja
Inokulasi jenis bakteri yang akan diuji kedalam cawan petri yang berisi media NA cair yang bersuhu 45 derajat C lalu diratakan agar suspensi tercampur dengan NA.
Ambil kertas cakram dan dicelupkan kebahan uji(jahe)
Letakan yang telah direndam tadi pada lempeng agar sebanyak 3 buah dan perhatikan jarak antara cakram cukup jauh.
Lakukan inkubasi selama 24-48 jam dengan 37 derajat C.
Amati pertumbuhan koloni pada lempeng agar, dengan mengukur diameter bagian yang tidak ditumbuhi bakteri sekitar kerts cakram
Tentukan apakah jenis bakteri tersebut peka atau resisten
Hasil Pengamatan
Dari pengamatan yang telah kami lakukan, ternyata kertas cakram tersebut tidak ditumbuhi oleh bakteri. Karena kertas cakram tidak ditumbuhi oleh bakteri maka kita tidak dapat menyatakan dia peka atau resistensi
Kesimpulan
Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan, terbukti bahwa bahan uji dalam hal ini adalah ektra dari jahe ternyata tidak ditumbuhi bakteri kertas cakramnya. Jadi ektra dari jahe termasuk dalam zat antimikroorganisme/mikroba
Jawaban Pertanyaan
Pertanyaan:
Apa yang dimaksud dengan sensivitas bakteri?
Sebutkan beberapa ketentuan/aturan dalam pengujian sensivitas bakteri menurut norel
Jawaban:
Sensivitas bakteri adalah kepekaan kuman atau mikroorganisme terhadap antibiotic dari bahan klinik/medis
1. Dipergunakan 5 lembar kertas saring yang dicelupkan pada suspensi lalu diletakkan pada lempengan agar yang mengandung biakan bakteri.
2. Setelah itu dilakukan inkubasi selama 16-18 jam pada suhu 37ºC, maka akan terlihat zona hambatan (zones of inhibition) di sekeliling cakram dimana cakram ini adalah kertas saring yang telah dicelupkan pada suspensi
3. Uji daya hambat biasanya dilakukan dengan petri berukuran 100 mm dan tidak lebih dari 5-6 disk anti bakteri pada setiap cawan Petri. Memberi jarak yang benar pada disk adalah sangat penting untuk mencegah zona hambat yang tumpang tindih.
4. Hambatan akan terlihat sebagai daerah yang tidak memperlihatkan adanya pertumbuhan bakteri di sekitar cakram. Apabila jarak antara cakram dengan bakteri 14 mm atau lebih, maka dapat dinyatakan bahwa bakteri peka terhadap suspensi sehingga bisa dikatakan bahwa suspensi dapat menghambat pertumbuhan bakteri, tetapi apabila jarak antara cakram dengan koloni bakteri bakteri 11 mm atau kurang maka dapat dikatakan bahwa bakteri resisten terhadap suspensi atau dengan kata lain suspensi tidak dapat menghambat pertumbuhan bakteri.
I. Referensi
Ajizah A. 1998. Sensitivitas Enteropathogenic Escherichia coli terhadap Daun
Psidium guajava L. secara in Vitro. FKIP Unlam Banjarmasin (tidak
dipublikasikan).
Ripani Musyaffa di Test Sensitivitas Bakteri

Tim Penyusun “Penuntun Praktikum Mikrobiologi dan Parasitologi” 2010

PRAKTIKUM IX “sediaan mikroskopik”
KELOMPOK II

Tujuan Praktikum
Mempelajari cara menyiapkan sediaan mikroskopik dengan baik, sebagai persyaratan untuk berbagai pearnaan
Dasar Teori
Istilah mikroskop berasal dari bahasa Yunani, yaitu kata micron yang berarti kecil dan scopos yang artinya tujuan. Dari dua pengertian tersebut, mikroskop dapat diartikan sebagai alat yang dibuat atau dipergunakan untuk melihat secara detail obyek yang terlalu kecil apabila dilihat oleh mata telanjang dalam jarak yang dekat. Ilmu yang mempelajari benda kecil dengan menggunakan alat ini disebut mikroskopi, dan kata mikroskopik berarti sangat kecil, tidak mudah terlihat oleh mata.
Mikroskop saat ini sudah berada dalam era teknologi tinggi dan perananya makin sangat berguna dalam bidang medis terutama dalam miroorganisme.
Untuk menggunakan mikroskop terlebih dahulu kita akan melalu langkah-langkah yang akan dijelaskan dalam prosedur kerja.
Pewarnaan mikroba sangat bergantung dengan sediaan mikroskopik ini, maka dari itu perlu ketelitian untuk medapat hasil yang diharapkan.
Alat dan Bahan
Alat: objek gelas, pembakar bunses, dan pipet tetes. Serta jarum inokulasi.
Bahan: biakan bakteri muda (24-48 jam), alcohol, dan kapas,
Prosedur Kerja
Bersihkan objek gelas hingga bebas lemak dengan kapas beralkohol

Teteskan satu tetes aquades dengan menggunakan pipet tetes pada objek gelas tersebut.

Pijar jarum inokulase dan didinginkan

ambil biakan bakteri dengan jarum inokulasi tersebut, kemudian campurkan dengan aquades pada objek gelas, sebarkan suspense tersebut sehingga menjadi sediaan yang tipis dalam bentuk lingkaran kira-kira sebesar uang logam 25 rupiah

keringkan sedian tersebut diudara
rekatkanlah sediaan tersebut dengan melewatkan objek gelas bagian bawahnya diatas api sebanyak tiga kali “fiksasi panas”.
Selanjutkan gunakan sediaan mikroskopik untuk proses pewarnaan.

Hasil Pengamatan
Dari kegiatan yang sudah kami lakukan sesuai prosedur kerja diatas maka hasil yang kita dapati adalah mendapat sediaan mikroskopik yang steril artinya siap digunakan untuk langkah selanjutnya yaitu pewarnaan gram.
Kesimpulan
Sesuai hasil pengamatan maka kami mengambil sebuah simpulan bahwa untuk menggunakan mikroskop dalam penelitian pewarnaan gram kita harus menyediakan mikroskopik dengan baik agar hasilnya juga baik/sesuai dengan harapan
Jawaban Pertanyaan
Pertanyaan: apa yang dimaksud dengan fiksasi panas dan apa tujuanya?
Jawaban: fiksasi panas adalan pemanasan kaca objek dengan menggunakan lampu bunse sebagai dasar pemanasan dana hanya dilewatkan maksimal 3 kali. Tujuanya adalah agar bakteri yang sudah tercampur dengan aquades dapat menempel pada kaca objek tersebut dan siap untuk diteliti warnaya setelah melewati proses selanjutnya.
Referensi
Tiner, John Hudson, Exploring the History of Medicine, Arkansas: MBs Inc, 2005
Dwidjoseputro, D. 1993. Dasar-Dasar Mikrobiologi, Penerbit
Djambatan, Jakarta
Tim Penyusun “Penuntun Praktikum Mikrobiologi dan Parasitologi” 2010

PRAKTIKUM X “pewarnaan gram”
KELOMPOK II

Tujuan Praktikum
Mengetahui perbedaan bakteri gram positif dengan gram negative
Dasar Teori
Pewarnaan gram masih merupakan salah satu prosedur yang paling banyak digunakan untuk mencirikan banyak bakteri. Terutama amat berarti dii laborotarium diagnostic rumah sakit karena informasi yang diperoleh dari pengamatan specimen yang diwarnai dengan pewarnaan gram dengan cepat dapat memberi petunjuk akan organisme penyebab suatu infeksi.
Pewarnaan gram merupakan pewarnaan diferensial yang membedakan bakteri dalam dua kelompok yaitu bakteri Gram positif yang mengikat zat warna pertama, dan bakteri Gram negative yang melepas zat warna pertama dan mengikat zat warna kedua.
Alat dan Bahan
Alcohol 96 %
Aquades
Lugol
Ungu violet
Safranin
Prosedur Kerja
Tetesi sediaan 2-3 tetes ungu violet, larutan zat warna harus menutupi seluruh permukaan sediaan biarkan selama 1 menit
Bilaslah sediaan dengan air kemudian keringkan diudara atau menggunakan kertas isap
tetesi dengan larutan lugol dan biarkan selama 2 menit, cuci dengan menggunakan kertas isap
Kemudian cuci dengan larutan pelutur selama 30 detik.
Beri larutan zat penutup (safranin) selama 30 detik, cuci dengan air lalu keringkan diudara
Amati sediaan dibawah mikroskop dengan menggunakan lensa objektif dengan perbesar besar yang terlebih dulu sediaan ditetesi minyak imersi
Hasil Pengamatan
Dari hasil percobaan yang telah kami lakukan dapat diketahui bahwa bakteri yang adalah bakteri positif seperti pada gambar dibawah ini
Kesimpulan
Pewarnaan gram terbagi jadi 2 yaitu gram negative dan positif. Gram negative mempunyai warna merah karena peptidoglikannya tipis sedangkan pada gram positif peptidoglekannya tebal.
Dari hasil pengamatan diatas kami kelompok 2 mendapat bakteri gram positif dengan warna ungu seperti tertera pada gambar di hasil pengamatan

Jawaban Pertanyaan
Pertanyaan:
Sebutkan beberapa factor yang mempengaruhi pewarnaan
Buatlah ikhtisar pengecetan gram
Jelaskan 2 mekanisme pewarnaan mikroba
Jawaban:
1.) Fiksasi : – meletakkan sel pd gelas obyek
-membunuh mikroba yang mati lebih mudah diwarnai
Peluntur warna :
– Melunturkan warna yg sudah diwarnai agar menghslkan warna kontras dan membedakan kel mikroba(alkohol, KOH, HCl)
Subtrat :
– Tergantung kand sel: KH, prot, lemak dan asam nukleat
– Sel asidofilik, sel basidofilik dan sudanofilik.
Intensifikasi pewarnaan :
– Mempercepat pewarnaan mikroba
– penambahan mordan
2.) Ikhtisar pengecetan gram yaitu di mana Mekanisme pewarnaan Gram itu, dikelompokkan terhadap cat tersebut. Gram positif akan mempertahankan zat pewarna kristal violet dan karenanya akan tampak berwarna ungu tua di bawah mikroskop. Adapun bakteri gram negatif akan kehilangan zat pewarna kristal violet setelah dicuci dengan alkohol, dan sewaktu diberi zat pewarna tandingannya yaitu dengan zat pewarna air fuchsin atau safranin akan tampak berwarna merah

3.) 2 mekanisme pewarnaan mikroba yaitu:
Pewarnaan Sederhana: dengan satu warna
Ex: Metylin blue
Pewarnaan Bertingkat: dengan beberapa warna
Ex: Pewarnaan Gram, struktur sel,tahan asam
Referensi
http://qi206.wordpress.com/2008/10/17/mikroumpewarnaan-gram/, diakses pada tanggal 27 oktober 2009
Tim Penyusun “Penuntun Praktikum Mikrobiologi dan Parasitologi” 2010

PRAKTIKUM XI “media tumbuh jamur”
KELOMPOK II

Tujuan Praktikum
Mempelajari morfologi jamur pada media agar
Dasar Teori
Jamur merupakan tumbuhan yang tidak mempunyai klorofil, sehingga tidak dapat berfotosintesa
Jamur tidak mempunyai klorofil, oleh karena itu hidupnya sebagai saprofit atau sebagai parasit. Hidupnya bersifat Heterotrof dapat parasit atau saprofit. Jamur ada yang bersel satu (uniseluler) dan ada yang bersel banyak (multiseluler), contoh yang bersel satu misalnya ragi(Saccharonycetes). Jamur yang bersel banyak tubuhnya terdiri atas benang-benang yang disebut Hifa. Hifa yang bercabang-cabang membentuk seperti jaring-jaring yang disebut Miselium. Dinding sel atau dinding Hifa pada umumnya terdiri atas selulosa, tetapi oada jamur tingkat tinggi dinding itu terdiri atas Kitin. Inti jamur bersifat eukaryon, yaitu inti yang berdinding dan mempunyai nukleolus.
Alat dan Bahan
Alat: mikroskop, objek gelas dan penutup gelas, jarum inokulasi, pipet tetes, inkubator, dan roti jamur
Prosedur Kerja
Sediakan lempeng media PDA sebanyak dua buah untuk isolasi jamur dari udara dan roti

untuk jamur udara, bukalah cawan PDA diatas meja selama 1 jam kemudian tutup kembali

untuk jamur bahan makanan, haluskan bahan makanan berupa roti yang sudah berjamur kemudian taburkan pada cawan PDA, lalu tutup kembali.

inkubasi pada suhu kamar atau masukan ke dalam incubator dengan suhu 22-33 derjat C, selama 3 x 24 jam
amati setiap hari koloni jamur yang tumbuh
identifikasi setipa koloni yang tumbuh dengan melihat warna koloni dan bentuk dibawah mikroskop

ambil objek gelas dan gelas penutup yang sudah dibersihkan, teteskan air diatas objek gelas tersebut, kemudian ambil sedikit koloni jamur dengan menggunakan jarum inokulasi, (usahakan bagian sporra dan hifa terambil)

gambralah mofologi penting untuk semua jamur yang diperiksa (miselium, ada/tidaknya sekat, spora dan bagian lainya)

Hasil pengamatan
Dari percobaan yang telah kita lakukan maka bisa dilihat dari gamabr dibawah ini

Kesimpulan
Jamur merupakan tumbuhan yang tidak mempunyai klorofil, sehingga tidak dapat berfotosintesa.
Dari hasil penilitian yang kami lakukan kami dapat melihat bahwa jamur miselium atau banyak serabut seperti yang tertera pada hasil penelitian diatas, baik pada jamur yang berada diudara maupun pada roti yang suah berjamur
Jawaban Pertanyaan
1: beberapa aspek yang harus di perhatikan dalam pengamatan morfologi jamur yaitu:
Jamur merupakan tumbuhaan yang tidak mempunyai krolofil, sehingga tidak dapat berfotosintesa.
Hidupnya bersifat heterotrof dapat parasif atau saprofit .
Jamur ada yang bersel satu ( uniseluler ) dan ada yang bersel banyak (multiseluler), contoh yang bersatu misalnya ragi (saccharommycetes)
Jamur yang bersel banyak tubuhnya terdiri atas benang-benang yang di sebut hifa. Hifa bercabang –cabang membentuk seperti jaring-jaring yang disebut miselium.
Diding sel atau diding hifa pada umumnya terdiri atas selulosa, tetapi pada jamur tingakat tinggi diding terdiri atas kitin.
Inti jamur bersifat eukaryon, yaitu berdinding dan mempunyai nukleolus.
Habitat di tempat-tempat basah (lembab), mengandung zat organik, sedikit asam, dan kurang cahaya matahari.
Berkembang baik dengan acara vegetatif dan generatif.
vegetatif (aseksual): dengan spora, tunas (budding) misalnya saccharomyces konindia misalnya pinicilium, aspergillus
generatif (seksual): dengan konyugasi, misalnya rhizopus. Dengan askus, misalnya saccharomyces basidium, misalnya volvariella volvacea (jamur merang).
2: Yang dimaksud dengan pengamatan biakan jamur dengan metode Henric`s slide culture dan hanging drop preparation yaitu:
Menggunakan untuk melihat bentuk dari mikroba (mikroskopik dari jamur) dan bertujuan utuk mengamati sel. Pengamatannya dilakukan dengan preparatulas dengan tekhnik ini hasil pengamatan akan langsung terlihat.

Referensi
Hans, G.S dan Karin, S. 1984, Mikrobiologi Umum, (terjemahan)Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Toekidjo.Ir.1989. Pengantar Ilmu Penyakit Tumbuhan. Andi Offset. Yogyakarta.
Triharso. 1994. Dasar-dasar Perlindungan Tanaman. University Gadjah Mada. Yogyakarta.
Alexopoules, C.J. 1962. Introductory Mycology. New york: John Wiley and Sons, Inc
Tim Penyusun “Penuntun Praktikum Mikrobiologi dan Parasitologi” 2010

PRAKTIKUM XII “bentuk mikroskopik”
KELOMPOK II

Tujuan Praktikum
Untuk menentukan bentuk mikroskopik kelompok hewan protozoa dan cacing yang bersifat pada manusia
Dasar Teori
Protozoa merupakan kelompok lain protista eukariotik. Kadang-kadang antara algae dan protozoa kurang jelas perbedaannya. Kebanyakan Protozoa hanya dapat dilihat di bawah mikroskop. Beberapa organisme mempunyai sifat antara algae dan protozoa. Sebagai contoh algae hijau Euglenophyta, selnya berflagela dan merupakan sel tunggal yang berklorofil, tetapi dapat mengalami kehilangan klorofil dan kemampuan untuk berfotosintesa.
Jenis Sistem Sistem Protozoa
Otot-rangka Protozoa tidak memiliki kerangka dalam atau luar. Mereka bergerak dengan berbagai cara. Amoeba memiliki kaki palsu atau pseudopodia yang meluas ketika bergerak. Paramecium ditutupi dengan rambut yang disebut silia.
Euglena viridis memiliki cambuk seperti ekor yang disebut flagel untuk bergerak.
Protozoa memiliki tingkat reaksi yang sangat rendah terhadap dunia di sekitar itu dan tidak mempunyai sistem saraf. Mereka dapat bereaksi terhadap cahaya dan perubahan suhu.
Protozoa hidup di air atau setidaknya di tempat yang basah. Mereka umumnya hidup bebas dan terdapat di lautan, lingkungan air tawar, atau daratan. Beberapa spesies bersifat parasitik, hidup pada organisme inang.
Protozoa dapat berkembang biak secara seksual dan aseksual. Secara aseksual protozoa dapatmengadakan pembelahan diri menjadi 2 anak sel (biner), tetapi pada Flagelata pembelahan terjadi secara longitudinal dan pada Ciliata secara transversal. Beberapa jenis protozoa membelah diri menjadi banyak sel (schizogony). Pada pembelahan schizogony, inti membelah beberapa kali kemudian diikuti pembelahan sel menjadi banyak sel anakan. Perkembangbiakan secara seksual dapat melalui cara konjugasi, autogami, dan sitogami. Protozoa yang mempunyai habitat atau inang lebih dari satu dapat mempunyai beberapa cara perkembangbiakan. Sebagai contoh spesies Plasmodium dapat melakukan schizogony secara aseksual di dalam sel inang manusia, tetapi dalam sel inang nyamuk dapat terjadi perkembangbiakan secara seksual. Protozoa umumnya berada dalam bentuk diploid. Protozoa umumnya mempunyai kemampuan untuk memperbaiki selnya yang rusak atau terpotong. Beberapa Ciliata dapat memperbaiki selnya yang tinggal 10 % dari volume sel asli asalkan inti selnya tetap ada.
Cacing parasit
Cacing parasit adalah cacing yang hidup sebagai parasit pada organisme lain, baik hewan atau tumbuhan. Mereka adalah organisme yang seperti cacing yang hidup dan makan pada tubuh yang ditumpangi serta menerima makanan dan perlindungan sementara menyerap nutrisi tubuh yang ditumpangi. Penyerapan ini menyebabkan kelemahan dan penyakit. Penyakit yang diakibatkan oleh cacing parasit biasanya disebut secara umum sebagai kecacingan.
Cacing parasit umumnya merupakan anggota Cestoda, Nematoda, dan Trematoda.
Beberapa cacing parasit hewan/manusia:
• Cacing gelang (Ascaris), penyebab askariasis
• Cacing hati (Fasciola), menghuni organ hati hewan ternak (terutama sapi dan babi)
• Cacing kremi (Enterobius), menghuni usus manusia dan menyebabkan gatal di sekitar dubur
• Cacing pipih darah, penyebab skistosomiasis (Schistosomia)
• Cacing pita (Taenia)
• Cacing tambang, penyebab ankilostomiasis (Ancylostoma duodenale dan Necator americanus)
• Cacing penyebab filariasis, seperti Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, Brugia timori, Loa loa, Mansonella streptocerca, Onchocerca volvulus, Dracunculus medinensis, Mansonella perstans, dan Mansonella ozzardi
Beberapa cacing parasit tumbuhan:
• cacing puru akar (Pratylenchus dan Heterodera) nematoda akar (P. coffeae, Radopholus similis, dan beberapa Meloidogyne

Alat dan Bahan
Mikroskop
Preparat awetan protozoa
Preparat awetan cacing parasit
Media gambar
Prosedur Kerja
Lakukan pengamatan langsung pada preparat yang dibawah berupa specimen awetan protozoa dan beberapa cacing parasit
Gambarlah struktur anatomi tubuh dari preparat tersebut dan cocokan dengan gambar
Baerilah keterangan untuk masing-masing bagian tubuh dari hewan yang diamati
Hasil Pengamatan

Kesimpulan
Protozoa merupakan kelompok hewan bersel satu yang berdasarkan alat geraknya dikelompokkan menjadi empat kelas, yaitu Flagellata (Mastigophora), Ciliata (Infusoria), Rhizopoda (Sarcodina), dan Sporozoa. Setiap kelas memiliki beberapa persamaan yang dapat menyatukan mereka ke dalam filum yang sama dan juga memiliki perbedaannya masing-masing yang menjadi ciri khas dari tiap kelas filum tersebut. Protozoa ada yang hidup secara bebas ada pula yang hidup parasit pada organisme lain.
Cacing parasit adalah cacing yang hidup sebagai parasit pada organisme lain, baik hewan atau tumbuhan. Mereka adalah organisme yang seperti cacing yang hidup dan makan pada tubuh yang ditumpangi serta menerima makanan dan perlindungan sementara menyerap nutrisi tubuh yang ditumpangi. Penyerapan ini menyebabkan kelemahan dan penyakit. Penyakit yang diakibatkan oleh cacing parasit biasanya disebut secara umum sebagai kecacingan.
Jawaban Pertanyaan
Pertanyaan:
jelaskan berdasarkan gambar proses peinfeksian salah satu jenis hewan pada kelompok protozoa yang bersifat parasit pada manusia
jelaskan berdasarkan gambar proses pengifeksian salah satu jenis hewan kelompok cacing yang bersifat parasit pada manusia.
Jawaban:
1:
Amoeba di usus: entamuba hystolitica, entamuba dispar, entamuba coli, entamuba hartmani, jodamoeba biitschii, dientamuba fragilis, endolimaks nana.
Di gigi : Entamuba gingivalis
Yang patogen hanya entamuba hystolitica

2:

Bentuk Infektif → Tertelan Manusia →Menetas di Usus Halus→ Larvanya menembus dinding usus halus → Pembuluh Darah/Saluran Limfe → ke Jantung → mengikuti aliran darah ke Paru.

Larva di Paru → Menembus Dinding Pembuluh Darah → Dinding Alveolus → Rongga alveolus → naik ke Trakea melalui bronkiolus dan bronkus → Faring→ menimbulkan rangsangan → Penderita Batuk → Larva tertelan ke dalam esophagus → Usus halus → Di Usus Halus, larva berubah menjadi cacing dewasa.
Referensi
Tiner, John Hudson. 2006 Exploring The History of Medicine, Arkansas. Mater Books Inc.
Agoes, Ridad. 2009 Parasitologi Kedokteran, Jakarta. EGC

http://blog.unila.ac.id/wasetiawan

htt p:/ / http://www.indonesianpublichealth.blogspot.com

Tim Penyusun “Penuntun Praktikum Mikrobiologi dan Parasitologi” 2010

About these ads

About Gusti Pandi Liputo

Masih dalam tahap belajar untuk menjadi pemuda yang berpikir kreatif dalam menyelesaikan setiap problematika

Posted on Januari 23, 2011, in Kesehatan, Pengetahuan and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: